TRADISI RITUAL RAMBUT GIMBAL DIENG

Anak Gimbal Dieng

Tradisi pemotongan rambut gimbal dieng .Begitu banyaknya kebudayaan dan keragaman suku di Indonesia mengakibatkan banyaknya tradisi dan adat istiadat dari suatu daerah tertentu. Maklum saja adat dan tradisi tersebut menjadi daya tarik sendiri bagi kalangan wisatawan untuk menikmati dan belajar pengalaman baru.

Bagi sebagian masyarakat daerah tertentu, tradisi atau ritual adat bisa menjadi kegiatan sakral dimana tradisi tersebut sudah turun temurun dilakukan dari nenek moyang mereka. Pada dasarnya ritual adat menjadi daya tarik tersendiri bagi pelancong yang tabu akan hal hal yang penuh misteri tersebut.

Salah satu keunikan adat istiadat masyarakat Indonesia khususnya Pulau Jawa, menyimpan begitu banyak misteri yang secara akal sehat pasti sangat sulit dipahami, dan tentu saja ritual adat tersebut urung dilaksanakan apabila masyarakatnya sendiri tidak “mempercayai” hal tersebut.

 

 

 

 

Sejarah dan Penyebab Rambut Gimbal Dieng

 

Rambut Gimbal dieng

Dieng, siapa yang tak kenal dengan dataran tinggi dengan terdapatnya desa tertinggi di Pulau Jawa yakni desa Sembungan dengan ketinggian 2.306mdpl. Dataran Tinggi Dieng sendiri merupakan salah satu dataran tertinggi di Indonesia yang bahkan sudah sampai ke mata dan telinga para Traveller Mancanegara.

Dieng yang terkenal dengan pariwisata alamnya, Dieng juga menyimpan sejuta pesona lain yang tak kalah unik dan menarik untuk dikunjungi.

Ritual Adat Dieng tak pelak menjadi bahan perbincangan dari turis lokal sampai ke turis mancanegara, saking uniknya, Ritual Adat tersebut sampai menarik ribuan wisatawan setiap tahunnya.

Mengenai Ritual Adat Dieng, ada salah satu Tradisi masyarakat lokal yang turun temurun dilaksanakan dari jaman nenek moyang dahulu yakni Tradisi Cukur Rambut Gimbal Dieng. Ritual Tradisi tersebut begitu sakral dan khidmat dilaksanakan hampir setiap tahun antara bulan juli atau agustus pada saat puncak musim kemarau.

 

 

Pengertian dari Tradisi Rambut Gimbal Dieng, bisa diartikan sebagai berikut, bermula dari cerita dongeng para orang tua dimasa lalu, anak anak kecil Dieng yang terlahir dengan “rambut gimbal” dianggap suci dan masih ada hubungannya dengan leluhur mereka dimasa lalu yakni Mbah Kolodete.
Mbah Kolodete ialah Kyai yang bersama dengan Kyai Karim dan Kyai Walik bersama sama membangun kawasan Dieng di Era peradaban jaman dahulu khususnya daerah Dieng, Kyai Kolodete menjadi salah satu tokoh sentral di kawasan Dieng Plateau. Sedangkan Kyai Walik dan Kyai Karim fokus di daerah sekitar kabupaten, pusat kota, dan daerah sekitarnya. Munculnya Fenomena Rambut Gimbal Dieng itu sendiri bermula sejak dahulu sekali, anak anak yang lahir berrambut gimbal dianggap titipan dari leluhur mereka dan tidak sembarangan bagi orang tua mencukur rambut anaknya yang berambut gimbal tersebut. Pada mulanya, anak anak yang berambut gimbal akan mengalami panas yang sangat tinggi ketika akan tumbuh rambut dikepala mereka, hal ini sudah menjadi lumrah dan sudah sering dijumpai di masyarakat sekitar kawasan dieng, bagi orangtua si anak, hal ini menjadi pertanda bahwa anak mereka “dititipi” sesuatu dari leluhur mereka, dan harus dijaga sampai apa yang diinginkan si anak menjadi terwujud. Mencukur rambut gimbal tersebut tidakbisa sembarang memotong dan tidak bisa sembarang orang yang mencukur rambut anak tersebut.

 

Prosesi Ritual Mencukur Rambut Gimbal Dieng

Biasanya acara pemotongan anak rambut gimbal dieng ini bisa kita saksikan saat acara Dieng Culture Festival Pada awalnya anak yang berambut gimbal akan ditanya lebih dahulu apa yang mereka inginkan agar saat rambut mereka dicukur nantinya tidak terjadi hal hal mistis yang tidak orangtua si anak inginkan. Hal ini dipercaya sebagai salah satu yang wajib dilakukan orangtua anak agar anak mereka “selamat”.
Setelah beberapa anak yang berambut gimbal dikumpulkan dan syarat memotong rambut telah sempurna, ritual mencukur rambut gimbal tersebut dimulai dengan mengambil air suci Dieng di Goa Sumur, menyiapkan perlengkapan ritual seperti sesajen antara lain nasi tumpeng putih dengan berbagai macam lauk pauk, buah buahan yang disusun rapi, jajanan pasar dan permintaan si anak tersebut. Biasanya ritual tersebut dilaksanakan di Komplek Candi Arjuna, dan tidak sedikit menyedot turis lokal dan asing maupun media lokal dan asing.

Setelah beberapa syarat sudah terkumpul, saatnya tokoh spiritual setempat memulai proses ritual pertama dengan memanjatkan Do’a dan mengasapi rambut si anak dengan asap kemenyan yang sudah dibakar terlebih dahulu, kemudian barulah memotong rambut gimbal tersebut dengan sebelumnya memasukkan cincin yang dianggap magis ke setiap helai rambut gimbal dan mencukurnya satu persatu. Rambut gimbal yang sudah dicukur kemudian dilarung atau dihanyutkan di Telaga Warna Dieng atau ke sungai. Setelah prosesi ritual tersebut diharapkan si anak tidak lagi tumbuh rambut gimbal baru dan dapat mempunyai rambut normal pada umumnya.

 

Tentang Ritual Pemotongan Rambut Gimbal Dieng
Bagikan Ini

penginapandieng


Situs Booking Online Penginapan Dieng Baik Homestay,Hotel dan Villa dieng ,dan Seputar informasi Paket Wisata Tour dan Wisata Dieng


Navigasi pos


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *